Wednesday, July 18, 2018

TEN SECOND BEFORE DIE (Catatan Pertama)

Aku tetap yakin pada pada kebenaran-Nya. Semoga Tuhan pun mempercayai ku. Suara sirine masih berputar masuk telinga kiri keluar telinga kanan, entah berapa putaran sirine itu meraung-raung kesakitan memberikan kengerian teramat dahsyat pada setiap yang mendengarnya disetiap sudut kota. Bisa jadi ini hari terakhir untuk semua, dan mulai lah aku mengucapkan selamat tinggal.

Masih kokoh berdiri menara berkubah berwarna putih yang sudah ternodai dengan simbahan darah entah dari manusia mana. badan ini sudah tidak anggup untuk bergerak, mungkin sampai disini, buram terang setidaknya masih bisa melihat sekeliling dengan menggerakkan bola mata. "help.... help.... tolong ... please help" masih berusaha berteriak namun tenggorokan ini lagi-lagi tak sanggup. Mereka pun bahkan tidak ada yang menoleh, semua riuh dengan kesakitan mereka sendiri atau bahkan petugas ambulance itu sudah tidak tahu harus mengambil calon mayat yang mana lagi untuk diurus dan dimasukan kedalam ambulance yang sudah penuh sesak dengan manusia terluka bergelimang darah.

Aku benar-benar menyerah, dengan rasa sakit yang aku alami, pendarahan dibagian bawah tubuhku sudah tidak bisa kututup oleh dua tangan, harus ku ikhlaskan darah-darah itu mengalir keluar darri tubuhku. Mataku masih melihat langit gelap namun bukan lagi malam. hati ini meneriakan nama Tuhan berkali-kali, mungkin belum waktunya mati.

Saat itu sudah tidak ada lagi pepohonan hijau yang biasa aku tidur dibawah rimbunnya, bahkan rumput yang ku duduki saat ini pun sudah bukan hijau lagi, karena campuran cairan merah marun darah-darah itu. Ada beberapa kalimat yang keluar dari pengeras suara yang aku yakin itu bukan manusia lagi, hanya rekaman yang diputar berulang-ulang "Attantion, we have emergency situation. Follow military instructions for evacuate". Ternyata ada orang-orang yang masih bisa berteriak memaki suara peringatan itu, pria berbadan besar itu menangis hilang wibawanya "untuk apa kau memperingatkan kami jika tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan kami dari sini...." sembari memukul pengeras suara itu hingga rusak, begitu juga dengan lengannya yang sudah tersayat.

Aku mencoba untuk sadar dan berharap ini hanya mimpi buruk, namun ini benar nyata. Cerita ayah ku dulu saat masih kecil ternyata benar terjadi, dan sampai aku dewasa aku masih berada diantara keyakinan semu tentang hari ini. Apa yang terjadi tadi pagi, hingga aku tak bisa melihat dimana matahari. Entah jam berapa saat ini, ponsel ku hancur, jam tangan ku juga sudah lepas beserta lengan kiriku. Pagi itu aku masih duduk terdiam menahan sakit, darah masih menetes dari bagian lengan kiriku yang masih utuh walau sudah ku ikat dengan kain baju dari mayat yang kutemukan disamping kiri tubuhku yang baru sadar dari mimpi terburuk. Mata ini lengket untuk dibuka bau amis dimana-mana. Darah yang sedari tadi ada di dua pelipis ku membuat rasa tidak nyaman memandang semua merah marun.

Aku mencoba berdiri dan melihat sekeliling, Masjid yang tadinya kusinggahi untuk sholat subuh kini sudah hancur tersisa mimbar dan kubah yang sudah tak diposisinya lagi. Sempatkan berjalan beberapa langkah dan semburat diantara asap dan api aku milihat tiga orang berpakaian militer Indonesia sedang memeriksa tubuh yang tergeletak disebrang jalan. Aku mencoba berteriak,, "haaaaaaai..." hanya sisa suara tenggorokan kering yang keluar dan pasti mereka tidak bisa mendengar ku. Kucoba lambaikan tangan ku yang tersisa, namun sepertinya mereka juga sulit melihatku dalam situasi ini. Berkali-kali aku terbatuk kecil karena terlalu banyak menghirup asap. ada batang besi penyangga jalan, kupikir mereka akan mendengar suara besi ini jika kupulkan dengan batu. Berkali-kali ku hantam besi itu dengan batu batu yang berserakan namun mereka sama sekali tidak mendengar, mungkin saja pendengaran mereka terganggu seperti hal nya aku yang masih mendengar gemuruh ditelinga entah apa yang aku dengan tapi ituseperti gesekan benturan dentuman yang menyatu hinggal menghasilkan suara gemuruh tak henti-henti.

Dengan tenanga terakhir ku, batu-batu itu kulemparkan kearah mereka dan akhirnya mereka menoleh. Seorang diantara mereka berjalan kearahku sembari menodongkan senjata SS-2, senapan serbu miliki Indonesia, mereka pasti memastikan bahwa aku bukan musuh. "Siapa kamu,....?!!" teriaknya , aku tak bisa membalas teriakan itu aku hanya mengangkat tangan ku sebagai tanda, bahwa aku tak bersenjata dan hanya sorang sipil yang harus segera di tolong. Prajurit itu memandangiku dari atas hingga bawah dan menyuruhku berputar untuk memastikan aku tidak membawa hal yang berbahaya. Dan akhirnya moncong sejata itu dia simpan lalu memeriksa tubuhku. "Dan.... disini ada korban hidup...!!!" teriaknya pada tentara lainnya disebran sana un

No comments: