Wednesday, July 18, 2018

I Will Be Back

Sesekali Saya mengingat waktu yang telah hilang berlalu tanpa sempat berpamitan. Waktu yang tidak bisa lagi saya ajak bicara karena sudah pergi entah kearah mana. Bisa jadi sudah beberapa bulan terakhir, saya tidak menyentuh pena dan kertas untuk sekedar mencurahkan pandangan, ingatan atau hanya remah-remah pikiran yang ada dalam angan. Sangat bijak perkataan seorang filsafat, bahawa kebdaraanya didasarkan pada pemikirannya. (aku berpikir maka aku ada).

Membedakan masa-masa yang lalu tentang saya yang begitu rajin menuliskan segala hal dari isi rendang yang paling enak hingga remahan gorengan yang bahkan hanya dijadikan bonus oleh penjualnya. Segala hal bisa saya fikirkan dan saya tuangkan dalam tulisan, urusan dipublikasikan, diakui atau tidak ya benar-benar urusan yang terpinggirkan. Saya memang tidak begitu peduli hasil dari sebuah karya, lebih pada kesenangan saya dalam bercerita.

Mungkin semenjak saya keluar dari bangku kuliah, saya mulai menjadi pemalas kelas menengah. Tidak lagi kritis dengan lingkungan sekitar, tidak lagi peduli dengan acara berita pagi. Bisa jadi saya telah terserang virus apatis yang sering dihina-hinakan oleh para aktivis kampus kala itu. Setelah selesai menempuh strata satu dan memilih untuk menikah, semacam ada dorongan untuk memusatkan pemikiran pada keluarga yang lebih penting dan utama, selain itu hanya jadi sampingan yang hanya jika ingat saja saya memikirkannya. Belum lagi saya juga telah hengkang dari dunia penyiaran radio, tempat saya mengasah pemikiran dan tempat berjuang menyuarakan berbagai hal.

Entah gelar jurnalis itu telah lepas dari hari saya, semoga saja tidak. kemampuan saya menulispun mulai lambat. Membuat 3 paraghraf saja rasanya sudah sangat melelahkan. Serupa saat masa pendidikan awal menjadi jurnalis, dimana menulis menjadi momok yang menakutkan, karena akan di koreksi oleh senior. Bahkan saya pernah memnjadi orang yang sangat keras pada junior saya untuk rajin menulis berbagai hal.

Sungguh saya tidak ingin menyebut ini sebagai bentuk kekagalan, seolah saya tidak bersyukur atas keadaan yang saya alami saat ini. Hanya saja begitu sangat terasa lama sekali saya tidak bersentuhan dengan pemikiran sehat, analisis kritis, perbandingan sumber informasi dan pengolahan keyakinan pada suatu fakta dan kebenaran yang berimbang.

Sekarang jari jemari saya bergetar ketika kata demi kata keluar dari pikiran namun berhenti pada keputusan sang jemari tangan yang enggan bersentuhan dengan kertas. Jelas bahwa apa yang menjadi rutinitas keseharian saya saat ini jauh sekali hubungannya dengan dunia tulis menulis, wawancara, berdiskusi, dialog kelas panas, penyiaran, publikasi, media dan serupa dengan mereka. Dunia saya saat ini berhubungan dengan barang, jasa, jual, beli uang. hutang piutang, economic lifestyle. Seharusnya itu tidak menjadi alasan dan bualan untuk tidak menulis, namun mungkin nuansa lingkungan yang kurang membawa moodbooster pada aliran yang tepat.

Disibukan untuk setiap hari berhadapan dengan customer yang berbagai macam karakter, mengecek stok setiap hari memperkirakan harga, memberikan program penjualan, memperbaiki cashflow, berhadapan dengan suplayer dan banyak hal lainnya. Mulai beraktivitas dari jam 8 pagi dan selesai di jam 10 malam, Rutinitas formal yang setiap hari harus dihadapi dengan senyum lebar.

Dalam beberapa waktu senggang saya sangat senang ,mengenang masa-masa bersama microphone, studio, audio mixer dan kabel-kabel. dan tidak lama semuanya hilang saat waktu sibuk kembali datang. Sebaiknya saya berpikir untuk kelur dari zona ini dan kembali kesuasana yang memberikan mu kesenangan, pekerjaan dan uang. Namun sejatinya akan sangat egois dengan situasi saat ini yang menuntut saya utnuk memendam ego dan mengunggulkan logika dan fakta kehidupan nyata yang harus saya hadapi. Kemabali saya bertanya pada diri, apakah saya gagal? dan saya hanya diam. kapan saya mulai berlari, dan dimana, kapan bagaimana saya berhenti berlari itu yang saya tidak pernah tahu.

bekerja dibidang News adn Enterteinmetn memang menyenangkan bagi saya  dan sama sekali tidak terasa melelahkan walaupun harus bekerja hingga larus malam bahkan bertemu pagi kembali. Antara kebutuhan dan pekerjaan genetik yang didesak keluarga bahwa semua laik-laki dikeluarga kami setinggi apapun pendidikannya dan bagaimanapun bakatnya akan menjadi pedagang pada akhirnya. Saya tidak sentiment dengan berdagang bahkan sebenarnya saya menyukainya diam-diam, karena dari berdagang saya bisa mendapatkan jumlah yang berlebih dibandikan dari pekerjaan sebelumnya namun ada ganjalan hati yang tidak pernah lepas, bahwa saya seorang Broadcaster dan jurnalis,

Sisi positif yang pernah saya pikirkan adalah, bisa jadi saya akan bisa membangun bisnis media yang memngangkat themeline ekonomi dan bisnis. Suatu hari nanti, whos know, everything can be realistic.. Lalu bagaiaman sekarang?, setidaknya saya masih memiliki media untuk saya menuangkan berbagai pikiran dan hasrat berbicara saya. melalui blog dan tulisan-tulisan ini. Dan sejujurnya tulisan ini pun sebagai cara saya untuk memberikan pemanasan kembali pada jari dan neuron otak saya untuk tidak lagi malas menulis, urusan layak atau tidaknya, kita bicarakan nanti, do it now and stop some faucking reason.

No comments: