Tuesday, June 18, 2019

Tak Pernah Lelah?

No matter how, i will always love you. Bukan hal yang mudah memang mencintai dalam berbagai kondisi. Hari manusia selalu berubah pada taraf-taraf tertentu, menjadikannya makhluk yang unik sekaligus labil pada keadaan atau bisa d ekspektasi kan sebagai respon beradaptasi.

Saat keadaan menuntut nya untuk berubah maka si Manusia itu akan menyesuaikan diri sikap tindak dan rasanya pada situasi yang ia hadapi.

Manusia dewasa yang telah mengambil tanggung jawab dalam mencintai manusia, bahkan semacam tak menjadi waras mampu bahkan memaksakan mampu mengorbankan apapun pada dirinya demi memunculkan bahagian pada pasangannya.

Mulai dari saat mereka saling mengenal satu sama lain, mereka akan mulai mengorbankan segala sikap ego dan segara pemikiran pada mulanya seraya menyesuaikan diri untuk saling memahami.

Dalam rumus matematika bentuk bumi yang manusia duduki itu bulat dengan titik probabilitas yang tak terhingga, serupa takdir alur hiduk manusia itu sendiri yang tak bisa di tebak arahnya. Dalam jalannya sebuah hubungan cinta manusia dan manusia itu pun memiliki banyak kemungkinan pada setiap sebab yang terjadi. Jika bertindak A bisa jadi hasilnya tidak akan menjadi A, kemungkinan pada respon B,C,D dan seterusnya.

Senpanjang apapun aku menjelaskan, kemungkinan respon balasan dari mu tak akan sama persis dengan apa yang aku harapkan. Maka aku harus sesuaikan jalan kedepannya.

Maaf jika aku bukan seperti apa yang kau mau, namun yang patut kamu tahu, bahwa aku tak pernah berhenti mencari probabilitas terbaik untuk adanya kita dalam bahagia.

Mungkin bukan saat ini, atau mungkin belum saat ini. Tak elok rasanya menyuruhmu bersabar setiap waktu, harusnya aku yang lebih berdarah untuk apa yang kita cari. Tapi jangan campakkan aku jika aku pulang dengan hampa. Sungguh pula aku tak ingin hanya memberimu manis manisnya pengharapan. Namun adakalanya aku harus membual untuk menenangkan gemuruh kebencian dalam kita. Walau aku tahu bualan itu hanya akan menambah tuntutan d waktu kelak, dan penghakiman yang amat rendah pada ku disaatnya nanti.

Sayang, maafkan aku jika kau lelah bersama ku, karena ku ajak kau berlari di jalan terjal. Seharusnya aku punya keberanian untuk mencuri gerobak itu agar kau naik duduk manis dan aku yang menjadi kuda pacunya.

Seraya berpandang pada langit dan menghela nafas panjang sembari bertanya pada diri,"Apa aku salah atas segala keadaan ini". Hanya Berharap Tuhan tak mendengar yang baru saja kuucap, karena akan sangat menghina, seolah Tuhan tak mampu mencipta keajaiban dalam keadaan ku.

Segala puji untuk Mu yang maha kuasa, telah menjadikan aku ada dari tiada, dan menjadikan kami bersatu dari terpisah, dan atas seluruh titipan yang ada pada kami, tuntun kami dalam menjaganya.

No comments: