Memang lebih banyak tak konsisten dibandingkan disiplin untuk posting blog. Sekarang yang saya inginkan, hanya sekedar bercerita tentang apa yang saya alami beberapa bulan terakhir. Dimulai dari berakhirnya sebuah harapan besar tentang masa depan dan beberapa impian kecil bersama keluarga sederhana dengannya. Setelah 3 Tahun lebih saya bersama menanam sebuah pondasi hubungan dengan seorang wanita yang saya pilih dan percaya bisa menjadi rekanan yang baik untuk membangun sebuah keluarga harmonis. Kesemuanya yang telah kami rencanakan tak bisa kami lanjutkan, karena berbagai tekanan terutama dari orangtua kami berdua. Dan semua berakhir di bulan Maret 2013. Ini isi hati saya setelah sadar kembali, "Terimakasih telah bersama saya selama ini, semoga kita bahagia dengan jalan yang sudah ada".
Tiga bulan kira-kira saya hampir menjadi bangkai di Yogyakarta, bukan karena terlunta-lunta tak punya harta, melainkan hanya kering tiada asa. Terlalu bijak untuk berkata bahwa lelaki bisa bertahan dalam kondisi apapun, buktinyata, kalau saya tak bisa bertahan dalam kesedihan mendalam setelah semua impian berantakan dan tak bisa saya susun kembali. Kuliah serasa tak ada satupun yang bisa masuk ke pikiran, pekerjaanpun berjalan biasa tak ada guna, teman rasanya jauh sekali, dan hanya kamar ini yang jadi tempat, setidaknya untuk berbaring dan mengalirkan air mata yang entah kapan habisnya.
April 2013, saya bahkan belum sempat menengok tanggung jawab saya di Radio Kampus. Selama satu bulan itu pula yang saya ingin hanya berbaring, berbaring, dan berbaring. Ternyata benar-benar hancurnya hati berbanding sama dan menghasilkan kerusakan pola hidup disetiap lini nya.
Mei 2013, setidaknya masih ingat untuk makan malam, dan mandi pagi. Bulan selanjutnya semua berjalan seperti penggarus lurus dengan angka-angka yang berurutan teratur, bukan teratur sebenarnya, lebih pada monoton dan datar. Bulan itu mengingatkan saya dengan sebuah film Zombie, mayat hidup, hidup tak mampu, matipun tak mau. Kos, Kampus, Kantor 3K. tempat-tempat ini yang jadi pacuan saya sehari-hari, setidaknya saya berjudul ingin memperbaiki hati. Dan disinilah saya mau untuk berinteraksi lebih dekat dengan oranglain, salah satunya Vivi Suci Wulandari. Perkenalkan, Vivi Suci Wulandari ini, teman satu angkatan di Kampus, satu jurusan dan satu kelas untuk beberapa matakuliah. Seseorang yang sangat baik untuk selalu bisa punya waktu mendengarkan, menemani, dan menghibur saya.
Juni 2013, Hati dan pikiran saya jelas masih merasa sakit, hampir setiap hari saya mengingat dan bersedih atas apa yang telah saya lalui 3 Tahun bersama kekasih yang tak berlanjut. Hampir menjadi kebiasaan setiap tengah malam saya terbangun dan menangis dengan apa yang saya alami, dan berharap semua dapat diperbaiki. Disisi lain, saat pagi menjelang, entah apa yang menggerakan hati saya begitu bersemangat untuk datang ke kampus, secara jelas, saya ingin setidaknya melihat dia "Vivi". Bahkan semakin lama, hubungan pertemanan kami semakin dekat.
Berawal dari kelas Produksi Siaran Televisi [PSTV] kami satu kelompok kerja, dia Produser saya Editor, cukup profesional. Suatu Sabtu, usai kelas PSTV saya masih ling-lung dengan perasaan dan luka hati yang saya alami. entah dari mana malaikat datang. Jelasnya ada ide brilian yang kemudian berlanjut menjadi sebuah kedekatan, ide untuk makan soto di siang hari. Tadinya Vivi mengajak beberapa teman untuk makan siang bersama, terutama anggota kelompok kerja kami, namun sepertinya mereka banyak acara, hingga akhirnya saya dan Vivi hanya berdua dan makan siang bersama di satu tempat Soto yang memang kesohor di sekitar kampus.
Makan siang waktu itu, terasa sangat Istimewa, walau di tempat yang sederhana, dan makan sederhana, tapi itu lebih dari Indah. Rasanya waktu itu hati saya begitu lega, dan bahkan mulai terbuka untuk bercerita, lebih banyak tentang apa yang saya alami, dan ternyata Vivi memperhatikan kemurungan saya akhir-akhir ini. Soto yang biasa saya bisa habiskan dalam waktu 10 Menit saja, kini seolah porsinya begitu, banyak 1 jam lebih kami makan, dan tentunya sembari berbagi cerita, dan dia begitu menghargai dengan mendengarkan tulus.
Makan siang usai, berlanjut pada sesuatu yang sama sekali tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Vivi menganjurkan untuk saya refreshing, menghilangkan segala kepenatan yang ada. Bahkan lebih lagi Vivi menawarkan dan mau menemani saya selama meliburkan diri dan jalan-jalan. Vivi bilang, disaat bersedih temmpat yang dia suka adalah Pantai, tapi, bagi saya itu terlalu jauh. Ringan sekali Vivi mengajak saya kepantai, minggu depan. Karena siang itu kami berdua tak puunya Agenda pergi atau pekerjaan, akhirnya dengan ringan pula Vivi ajak saya untuk pergi ke Taman Sari, situs sejarah Kraton Yogyakarta, tempat pemandian, Sultan yang sudah dijadikan obyek wisata. Berjalan-jalan sambil bercerita, cukup baik untuk kesehatan hati dan mata saya supaya tak sering menangis. Bukan hanya saya yang bercerita tentang semua masalah yang sedang dialami, Vivi juga imbangi saya dengan cerita yang ia inginn ceritakan, beberapa masalah yang ingin dia cetitakan pada seseorang. Cukup satu jam lebih sedikit kita-kira kami duduk di pelataran Taman Sari dan bercerita kesana kemari.
Dan saya merasa senang hari itu bisa meluangkan waktu berjalan-jalan yang tak pernah saya luangkan sebelumnya, terlebih bersama Vivi. Ternyata ini belum berakhir, kejutan selanjutnya adalah bahwa dia "memaksa" secara tidak langsung, kalau saya harus kepantai dan akhirnya kami deal hari Juma't jam 15.00 WIB kami berangkat dengan motor yang baru saya beli dan baru pertama saya bawa sejauh Yogyakarta Parangteritis.
Satu jam perjalanan menuju Parangteritis, sesampainya disana saya dan Vivi terlebih dahulu makan nasi goreng, ya karena sedari siang kami belum makan. Sore hari dan cuacanya juga sangat bagus, kami berjalan di atas pasir dan dibawah langit dan matahari yang sedang persiapan untuk Sunset. Berjalan berdua layaknya pasangan baru, tapi jujur sebelum ke pantai pun saya dan Vivi sudah begitu akrab dan sering jalan bersama di sekitaran kampus dan bahkan sudah saling berkunjung ke kos masing - masing.
Biasnaya ada kalimat deburan ombak, yah saya akan gunakan itu. Deburan ombak yang sederhana dan orang-orang yang juga sedang menikmati indahnya pantai Parangteritis di sore hari menjadi warna suasana kami yang sedang saling mengenalsatu sama lain dan terlebih misi untuk menyembuhkan rasa sakit yang saya alami. Menjelang malam kami duduk di antara hamparan pasir dan mulai menjadi sangat jujur dan terus bercerita hingga pukul 10 malam. Saya cerita tentang masa lalu, kisah cinta, keluarga dan apapun yang saya alami selama ini, begitupun dengan Vivi yang secara ikhlas bercerita tetang apa yang dia alami, kisah cintanya dan semua tentangnya walaupun dia bilang belum 100%. Saya menjadi semakin yakin dan tahu tenang hubungannya dengan salah satu teman saya yang sudah lulus dari kampus, dan entah kenapa seolah ada rasa cemburu dalam hati kecil ini.
Malam semakin larut, dan suasana saya katakan lebih romantis dibanding sunset dan sunrise. Dan lagi-lagi saya terkejut dengan apa yang saya nyatakan pada Vivi, saya benar-benar sudah menyukainya. dan beberapa detik kemudian semua hening. Saya harap ini bukan sebuah ketergesa-gesaan terhadap rasa yang tiba-tiba muncul dan saya tujukan pada Vivi. Saya bukan bermaksud untuk lebih jauh, hanya menyatakan bahwa saya suka dan senang berada disampingnya. Mulai malam itu, kami saling terpaut rasa dan kedua tangan saling menggenggam hingga pulang, bahkan dia sempat memeluk saya saat pulang. Its Very Beautyfull Day.
No comments:
Post a Comment