Baru saja kemarin aku merayakan Tahun ketiga yang begitu sulit. Merayakan keberhasilan kita menghadapi semua ini, menghadapi jahatnya posisi dan jarak, yang entah siapa yang membuat teori itu. Merayakan kemangan kita dalam menghancurkan setiap ketidak percayaan, keraguan dan ketidak setiaan.
Baru saja kemarin, kalimat waktu bergulir seolah tak segan menggilas apa yang ada didepannya. Baru saja kemarin aku melihatmu menulis dibuku hitam dengan pena putih dan beberapa hiasan berwarna di ujungnya. Terasa baru kemarin, aku duduk di barisan ke tiga jajar ke 2 dari urutan meja di kelas 12. Aku pun masih yakin kalau memang baru kemarin, aku memiliki keberanian untuk bicara dihadapan ayah dan ibumu, suatu hal yang nampaknya gila dan baru pertama dilakukan oleh laki-laki muda yang terlampau muda untuk faham tentang sebuah keluarga.
Semua terasa baru saja berlalu, saat ku lihat tetes terakhir dari air mata mu di ujung jalan saat bus sialan itu membawaku pergi darimu. Dari sini aku pun masih belum bisa menerima bahwa tanggal-tanggal di kalender itu terus berjalan maju meninggalkan masa-masa indah saat kita ada di tengah rumput hijau tempat biasa merangkum rindu kita masing-masing.
Di ujung kamar ini pun masih ada selembar kertas bergambar dengan senyuman yang terlampau indah di wajah gadis berkerudung merah. Lagu yang sering kita dengar seolah tak memberikan kesempatan penyanyinya untuk istirahat, berputar sejak sore tadi, sejak aku mulai membuka kembali kotak mimpi kita.
Kamar ini memang tak gelap sayang, kamar ini sangat terang dengan lampu yang baru aku beli kemarin, entah aku yang salah membeli lampu atau apa, jelas lampu ini sangat redup lebih tepatnya hampir mati. kamar ini lebih mirip dengan gudang sisa-sisa barang yg tak terpakai. kata-kata hiperbola tadi mungkin cukup untuk sedikit menggambarkan keterpurukan ku saat ini.
Tiga Tahun, aku kira itu bukan waktu yang sebentar, sangat lama, dan sebut saja cukup untuk saling mengenal walaupun 2 tahun sisanya berada di posisi berjauhan. Beberapa Tahun lalu, waktu itu aku memang masihlah bocah yang terlalu congkak untuk mengenal lebih jauh hal dewasa. Bocah yang terlalu percaya diri dan sangat angkuh yang berusaha mendobrak perbatasan rasa remaja dan dewasa.
Tak rupawan, tak berpunya, takberdaya, hanya lekat dengan putih abu yang hampir 12 jam di pakai setiap harinya. Beberapa kali aku pernah merasakan perasaan yang aku takut menyebutnya dengan cinta, walau itu selalu ku sebut dengan sebutan sayang. Semua cerita saat itu, ku anggap indah, atau bahkan ku indahkan sendiri walaupun tak selalu benar indahnya. Terimakasih untuk mereka yang pernah memberi pengalaman hidup berharga tentang interaksi antar dua jenis manusia yang berbeda.
Terlalu kalut untuk memikirkan hal itu, lagi pula saat itu aku berada pada situasi menjelang pennentuan kelulusanku dari sebuah sekolah yang sangat aku cintai melebihi dari sesuatu yang pantas untuk di lebihi.
Tiga Tahun, aku kira itu bukan waktu yang sebentar, sangat lama, dan sebut saja cukup untuk saling mengenal walaupun 2 tahun sisanya berada di posisi berjauhan. Beberapa Tahun lalu, waktu itu aku memang masihlah bocah yang terlalu congkak untuk mengenal lebih jauh hal dewasa. Bocah yang terlalu percaya diri dan sangat angkuh yang berusaha mendobrak perbatasan rasa remaja dan dewasa.
Tak rupawan, tak berpunya, takberdaya, hanya lekat dengan putih abu yang hampir 12 jam di pakai setiap harinya. Beberapa kali aku pernah merasakan perasaan yang aku takut menyebutnya dengan cinta, walau itu selalu ku sebut dengan sebutan sayang. Semua cerita saat itu, ku anggap indah, atau bahkan ku indahkan sendiri walaupun tak selalu benar indahnya. Terimakasih untuk mereka yang pernah memberi pengalaman hidup berharga tentang interaksi antar dua jenis manusia yang berbeda.
Terlalu kalut untuk memikirkan hal itu, lagi pula saat itu aku berada pada situasi menjelang pennentuan kelulusanku dari sebuah sekolah yang sangat aku cintai melebihi dari sesuatu yang pantas untuk di lebihi.
No comments:
Post a Comment