Ini bukan ungkapan
wah terhadap kecepatan waktu yang gak kerasa, tapi sumpah beneran gak kerasa
kaya idul adha. Suasananya kayak hari biasa gitu, yah bedanya orang pada libur.
Dan itu bikin anak kos susah cari makan. Beruntung warteg deket kos masih peduli
dengan keberadaan anak kos yang jauh dari orang tua dan belum bisa masak
sendiri.
Seharian, aku
habiskan dengan main game, dasar maniak, kalau udah nonton film perang-perang
bawaannya pengen main gamenya langsung. Sebenarnya tak ada yang terlalu menarik
hari ini untuk aku ceritakan pada mu. Hanya beberapa bau harum orang-orang yang
sedang memasak daging.
Mungkin karena
bertepatan dengan hari jum'at jadinya kambing-kambing dan sai-sapi beberapa tak
di potong hari ini, dan kebanyakn akan di potong hari sabtu dan minggu. Hanya
saja yang menjadi jelas adalah aku tak merasakan idul adha seperti aku
merasakannya dirumah.
Kau tahu rasanya
begitu membosankan saat dirimu menjadi pemalas yang sangat hebat. Hidup seorang
pemalas hanya berjarak 5 meter dari ujung hidupnya ke ujung hidupnya yang lain.
Saking sempitnya hidup seorang pemalas bahkan dia tidak bisa menggemakan suaranya.
Di setiap hariku ada
si cantik yang selalu mengajak tidur bersama menjadi prolog untuk mimpi-mimpi
indah. Kau tahu , dia manis sekali, dengan suara manisnya seperti angin yang
berhembus di marina. Malam ini kami menceritakan berbagaihal, tentang sehari-hari,
mulai dari hal tak penting hingga yang menentukan hubungan kami. Yah, ceritakan
bersama tentang hidup dan betapa pendeknya itu.
No comments:
Post a Comment