Beberapa hari ini
ceritanya lebih banyak dan mungkin dominasi oleh dering telp. Panggilan dari
sebuah station radio yang aku ceritakan kemarin. Hari sabtu biasanya jadi hari
kerja luar kampus yang paling ekstra, namun tak seperti biasanya, aku terbangun
setelah beberapa suara mobil anak SD depan kos yang datang terlambat.
AAAAAAhhhhh... Tidak.... Dan aku terlambat bangun hampir tiga jam dari
biasanya.
Loncat dari kasur
(sebenarnya sih gak ada ranjangnya, Cuma biar keliatan keren gitu), bereskan beberapa kerusakan kamar akibat
tidur ku yang tidak tenang. Kamar kos ku lebih bagus jika disibut kapal perang
yang baru diserang musuh dari laut dan udara. Sebenarnya arwah ku belum
seutuhnya masuk dalam tubuh berbau ini. Setelah selesai dengan urusan
beres-beres langsung melarikan diri ke kamar mandi, ambil wudhu dan lanjut
ibadah shubuh yang sebenarnya sudah telat (ampuni aku Tuhan). Lebih parahnya
ada tugas persiapan siaran yang telat aku siapkan padahal jam siarnya nanti
siang. Dengan jurus gigi 6 tanpa kopling aku sudah siap pergi ke kampus untuk
mendapatkan akses internet gratis sebagai fasilitas untuk dapat menyusun
berbagai tugas dan pekerjaan. Kira-kira butuh waktu dua jam untuk aku
menyiapkan berkas siaran lengkap. Sebelum jam 12 siang akhirnya tugas pertama
hari ini sudah selesai.
Kalau diingat-ingat
tentang menunggu telpon dari station radio yang telah aku ajukan lamaran,
rasanya lemas karena sudah dua hari tak ada telp, mungkin tandanya aku harus
berhenti berharap terlalu tinggi dan mulai dengan yang baru. Hari ini
sebenarnya aku tidak siaran, tadi aku sedang mempersiapkan berkas siaran untuk
program yang saat ini menjadi tanggung jawabku dan yang bertugas siaran adalah
kawan ku. Untungnya hari ini jam siar tidak utuh sampai dua jam karena ada
pemutaran rekaman pidato bungkarno di hari pancasila.
Sambil dengar
siaran, aku coba untuk sibuk dengan blog Rasida. Selain dunia radio, aku juga
senang dengan blog, web dan apalah itu yang ada di internet. Pokoknya aku suka
internet. Sudah sejak awal 2012 aku coba membereskan blog rasida dengan desain
yang bagus baik dari segi isi, seni, dan sistem. Saat itu aku hanya sendiri diruang produksi
Rasida FM kau tahu, itu sangat sepi dan sangat mengacaukan kepalaku. Terlebih
karena kepalaku yang baru potong rambut masih memikirkan lamaran kerja siaran
itu. Sembari beberapa comment untuk facebook yang agak berjamur dan twitter
yang lebih sering hanya jadi alibi bahwa aku telah masuk dalam kategori orang
dengan kepribadian modern (entah benar atau tidak yah inilah aku).
Seperdetik kemudian
ditengah kekalutan dan dehidrasi galau yang mendera, tiba-tiba handphone
pinjaman teman yang masih aku pakai ini berdering dengan lantang dan dengan
getarannya yang khas seperti goyangan penyanyi dangdut orkes keliling
berdering-dering beberapa kali. Aku lihat layar berwarna hijau memperlihatkan
sebuah nomor asing tanpa nama. Dari jumlah angka yang tampil aku yakin bahwa
itu adalah nomor kantor dan bukan nomer handphone apa lagi nomor rumah. Dari
ujung telpon terdengar suara laki-laki dengan bass yang cukup wibawa, pak deni
namanya. "mas lukman besok bisa datang ke starjogja untuk wawancara kedua
jam 10 ya..." singkat dan pasti. Suara ditelpon itu lah yang menjadi tanda
pertanda dari kelanjutan usahaku untuk berkarir di dunia radio komersil.
Alhamdulillah...... Segala puji teruntuk Tuhan semesta alam. Kekalutan yang
sejak pagi datang dan pergi kini benar0benar pergi dan berganti pemain dengan
kesenangan dan rasa tak sabar ingin melakukan wawancara kedua. Terimaksih pula
harus aku sampaikan untuk kawan kos ku Prima, yang dengan ikhlas meminjamkan
handphonenya dalam kurun waktu yang cukup lama untuk ku pakai karena aku sudah
tak punya handphone. Dan dari handphone pinjaman inilah aku bisa mendengarkan
apakah aku berlanjut ketahap selanjutnya atau harus gigit jari karena kertas
lotre "maaf anda belum beruntung coba lagi".
Sore itu wajah ku
yang tadinya ditekuk dengan tekukan berbagai sudut, kini kubuka perlahan dan
cerah, bahkan lebih cerah dari sunrise. Awalnya aku menyendiri di ruang
produksi dan hanya sibuk dengan blog, kini aku bergabung dan mentertawakan
seniorku yang sedang mengadakan lawakan dadakan mungkin lebih ke lenong betawi.
Dan bahagialah hari itu. Dipenghujung jam siar radio komunitas tempat ku
belajar, kami kaawan-kawan di radio kemudian beranjak pergi dan sengaja
bersama-sama untuk menjenguk pimpinan kami yang sedang terbaring lemah disebuah
rumah sakit karena kalah perang dengan agen 007 dari negri nyamuk aides aigepti
(bener gak yah tulisannya?!)
Sesampainya dirumah
sakit kami melihat tubuhnya yang besar dan wibawa terpuruk dalam kasur putih
rumah sakit yang tak pernah aku sukai.
Beberapa makanan dan minuman masih tampak belum habis di atas lemari
kecil disampingnya. Pimpinan kami namanya Hikmat kamal, biasa dipanggil kamal,
kemal, dll yang beberapa aku tak tahu. Dari cerita yang secara perlahan ia
ceritakan di atas tempat tidur, ternyata baru gejala Demam Berdarah (DBD) namun
yang membuat parah adalah trombosit dalam darahnya menurun drastis hingga harus
cepat didorong naik dengan caara apapun. Sebelum sakit, kabarnya mas Kamal
masih kerja untuk TVRI dan itu sudah sakit, kalau saya gak ngebayangin,
ketika sakit harus tetap memenuhi
kontrak kerja. Cerita lainnya adalah
saat mas kamal diledek suster rumah sakit, "masa badan gede kalah sama
nyamuk" dan cerita itu yang embuat rahang semua kawan di radio untuk
tertawa.
Sore itu ada yang
lain dan mungkin sedikit berbeda dari proses jenguk-menjenguk lain. Sore itu
suster menginstriksikan agar pasien mandi dengan air yang telah dipersiapkan,
pastinya mandinya tidak dikamar mandi, tapi hanya di lap saja biar agak segaran
dikit. Dan apa yang terjadi teman-teman yang mengaku hawa harus keluar dari
kamar dan selanjutnya aku, Jay dan angga
teman satu radio, harus memandikan pimpinan kami yang sedang tergolek lemah.
Aku menyediakan diri untuk memandikannya dan kamu tahu? Itu adalah pertama
kalinya aku memandikan bos plus juga mengusap-ngusap beberapa bagian tubuh dan
wajahnya, (semoga tidak kualat).
Dan setelah malam
kami pulang ke kos masing-masing. Hari ini aka menjadi hari yang indah, semoga
aku tak lupa menuliskannya, walupun sebenarnya tulisan ini baru aku tulis
beberapa hari kemudian dengan usaha keras mengingat apa yang terjadi tanpa
terlewat satu pun. Setelah mandi dan makan malam, badan yang lelah ini aku
baringkan di atas kasur yang sudah lama tak dijemur. Selngkah ambil handphone
dan mencari nama dalam kontak "rika" nah ini nama kontak favorit.
"halo... Udah tidur belum? A baru pulang ni" dan obrolan pun
berlanjut hingga malam sepi tanpa suara sekalipun kecuali motor jail yang masih
berkeliaran ditengah malam. Dan aku pun tertidur sembari kuping masih
mendengarkan helaan nafasnya di ujung telpon yang selalu menghubungkan kami dan
menghancurkan batas jarak setiap harinya.
No comments:
Post a Comment