Sunday, October 9, 2011

Romantika Hingga Tua




Sebenarnya ingin sejak kemarin saya ceritakan pengalaman saya bertemu dengan pasangan romantis berkulit keriput yang pasti sudah tidak muda lagi. Mulai saat ini saya ingin ceritakan setiap apa yang saya temukan dalam perjalanan hidup saya.



Anda mungkin belum tahu tentang tempat dimana saya makan malam setiap harinya. Sebuah warung sederhana dengan sepasang kakek nenek yang terus setia menemani para pelanggannya yang terkadang sangat lapar seperti singa Afrika yang sudah sebulan tak temukan mangsa. Setiap malamnya saya dan kawan-kawan satu kos hampir selalu bersama makan di warung makan tempat pasagan sejagat itu bersama bekerja keras demi hidup dan cinta mereka. Kami sering menyebut warung Lastri, karena ibu pemilik warung itu namannya Lastri dan suaminya pak Murdi.

Sudah bertahun-tahun  mereka bersama dan memadu cinta di warung tumpuan hidup itu. Sejak pertama saya pertama di Yogyakarta saya sudah mengenal warung makan itu dan memang, anak-anak dari kos-saya selalu makan di tempat itu, dan jika sehari saja warung itu tutup maka menderitalah rasanya. Alasan saya dan kawan-kawan makan di tempat bu Lastri karena selain masakannya enak, bu Lastri dan pak Murdi selalu menyambut kami ramah seperti keluarga mereka sendiri.

Masakan bu Lastri memeang tidak semewah dengan restoran kelas royal namun yang menjadi indah dan menyenangkan bila saya dan kawan-kawan makan disitu adalah kehangatan keluarga. Masakan bu Lastri sangat memiliki rasa rumah yag mengobati kerinduan kami akan kampung halaman kami masing-masing.

Setiap kali makan, pasti ada candaan di warung Lastri, mulai dari candaan sederhana hingga candaan yang sedikit menyentuh sisi romantisme pak Murdi dengan bu Lastri, dan yang paling pasti adalah kami pasti tak tahan dengan gumpalan tawa yang siap untuk di suarakan. Pernah satu malam kami sedang bercanda dengan para wanita yang mampir atau sekedar lewat depan warung. Dan secara tiba-tiba pak Murdi menggoda bu Lastri dengan bersiul menyanyikan sebuah lagu romantis di masanya, akhirnya kami pun nimbrung menggoda pasangan setengah abad itu.

Setiap hari bu Lastri dan pak Murdi bekerja bersama di warung milik mereka dari pagi hingga malam. Dengan penuh kesabaran mereka menghadapi hidup dan berbagai warna masalahnnya, tapi kesabaran mereka dan rasa cinta yang terus menyelimuti aroma rumah tangga mereka menjadi sangat meringankan bagi mereka. Ada satu hal yang menjadi sangat aku kagumi, pernah aku mendangar bahwa ternyata pak Murdi dan bu Lastri tidak memiliki anak. Aku jadi teringat tetangga ku yang tidak memiliki momongan, padahal mereka adalah pasangan muda dan akhirnya hanya dua tahun mereka bertahan dengan rumah tangganya tapi harus bercerai gara-gara salah satu dari mereka di klaim mandul dan tidak bisa memiliki anak. Sangat berbeda dengan pasangan yang aku temui di kehangatan warung bu Lastri.

Pak Murdi dan bu Lastri sama sekali tidak nampak mengeluh dan bermuram durja. mereka masih tetap bersama dalam balutan cinta yang suci. Walaupun bu Lastri sedang mengalami sakit yag terus berkepanjangan tapi pak Murdi masih tetap setia menemani di setiap harinya. Aku sangat berharap bisa memiliki rasa cinta yang tulus seperti pak Murdi dan bu Lastri. Aku harus banyak belajar pada mereka dan tentu mengambil segala hikmah dari apa yang aku temui setiap harinya.

No comments: