Saya terbilang orang yang jarang jalan-jalan apa lagi ke mall, atau pusat perbelanjaan. Masalah besar jika saya berada di mall, dompet kosong adalah salah satu faktornya. Orang yang jalan-jalan di mall memang bermacam-macam motif, ada yang memang ingin berbelanja, ada yang ingin mencari barang yang memang sedang dibutuhkan, ada yang ingin sekedar makan siang, dan ada pula yang hanya sekedar berputar-putar di mall tanpa arah yang jelas. Saya termasuk yang memiliki motif yang terakhir.
Kamis kemarin tidak terlalu membingungkan saat jalan-jalan ke mall, karena ada kawan yang memang sering jalan-jalan ke mall jadi gak terlalu katro. Siang hari kami berangkat, sampainya disana, kami sudah disuguhi pemandangan anak muda yang senang bermewah-mewah. Dilantai satu mall di yogyakarta itu kami berpapasan dengan segerombol remaja laki-laki dan perempuan dengan wajah indonesia asli yogya, yang mengenakan pakaian dan style layaknya artis papan atas, entah memang artis atau hanya sebuah usaha tampil ngartis.
Sepanjang jalan di mall saya banyak melihat hal yang memang tidak pernah saya lihat ditempat tinggal saya. Restoran minimalis, foodcourt, deretan penjual pakaian bermerek, stylis, lengkap dengan barkot harga menjulang. Fasilitas bermain mulai dari anak-anak sampai orang dewasa bisa Anda dapatkan di Mall, tentu dengan dompet Anda yang berisi.
Saat kami berdua (saya dan seorang kawan), berada di Lantai satu, kebetulan sedang ada pameran otomotif dengan berbagai merek kendaraan roda dua dan empat yang terbaru, tentunya ini menambah suasana mewah dalam mall itu, yang jelas ini sudut pandang pemikiran saya. Mata saya mulai berjalan-jalan menatapi setiap mobil yang dipajang, sesekali saya memperhatikan arsitektur bagian dalam mall ini, marmer nampaknya jadi bagian utama yang menjadikan mall ini cukup indah bagi saya.
Game adalah hal yang biasanya dicari para remaja atau juga anak-anak. Dan nampaknya itu pula yag kawanku sedang cari, stelah sampai disebuah pusat game dengan puluhan mesin permainan. Kawanku yang bisa dikatakan kaya llangsung merogoh dompet dan mengeluarkan uang berwarna biru yang bertulis angka 50 ribu rupiah, tiket card sudah di beli dan mulailah dia bermain, sesekali dia ajak saya yang memang sedari tadi hanya diam memperhatikan situasi yang ada.
Sebuah toko berisikan komputer dan perangkatnya yang erlabel akan buah apel jadi sasaran kunjungan kami, saya memang tidak berniat tapi kawan ku mengajak kesitu, entah dia ingin membeli atau tidak, tapi dia terlihat berbincang dengan SPGnya atau Sales Promotion Girl. Setelah mencoba beberapa laptop, saya tertarik untuk mencoba apa yang kawan saya lakukan, dan berhasil untuk mencoba beberapa laptop. Sudah sejak lama saya ingin membeli sebuah laptop, dan hari ini saya yakin bukan waktu yang pas untuk membelinya, uang di dompet hanya ada seratus ribu lebih beberapa potong uang seribuan bekas makan di warteg (warung tegal).
Ada yang menarik waktu kami sedang mencoba-coba barang yang dipajang. Datang seorang wanita cantik dengan wajah asli Indonesia yang manis tingginya tak melebihi 165 cm. Wanita itu datang dengan gaya berjalan seperti artis hollywood dan sangat menggambarkan ciri wanita yang fashionable, seorang dari penjaga toko menghampiri dan menannyakan apa yang ingin dicari wanita tersebut. Ternyata sebuah layar sentuh yang sering disebut ipad dengan model dan keluaran terbaru. Karena tidak ada ditempat itu si wanita beranjak pergi dengan wajah yang agak mendongak keatas, entahlah apa maksudnya.
Akhirnya jalan-jalan kami sampai disebuah tempat yang paling saya suka, apa lagi kalu bukan toko buku, jangan katakan kutu buku, karena saya sangat sering mandi. Sebuah toko buku besar dengan deretan lemari yang penuh dengan buku, terpajang beberapa buku baru di barisan depan menyambut kedatangan pembeli atau tukang lihat-lihat saja yang bisa dikatakan pengunjung tulen. Saya berniat mencari sebuah novel yang berjudul “notes from qatar” sangat mudah untuk menemukannya namun sangat sulit untuik membelinya. Uang seratus ribu yang ada di dompet telah saya niatkan untuk membeli buku dengan harga murah untuk bacaan anak-anak yang sedang membutuhkan di kota asal saya.
Wajah saya langsung terkuak seperti bunga yang sedang bermekaran, sebabnya adalah barisan buku dan beberapa tumpuk buku yang agak berserakan dengan tulisan besar di atasnya, buku murah mulai dari liima ribu rupiah sampai dua puluh ribu rupiah. Tanpa berpikir panjang saya langsung berlari dan meninggalkan sahabat saya sendiri. Begitu banyak buku dan saya langsung beraksi untuk memilah dan memilih buku-buku yang bagus. Saya merasa agak kesulitan untuk memilih buku bagus dengan harga lima ribu saya, hingga akhirnnya saya memanggil seorang SPG yang sedang merapihkan buku, dengan ramah dan lembut saya berusaha meminta bantuan dia untuk memilihkan buku bagus dengan harga lima ribu tadi. Senyum manis menandakan sang SPG bersedia memilihkan untuk saya.
Hampir satu jam menjadi buku akhirnya saya bisa membawa pulang 25 buku yang saya nilai cuku bagus, terlebih saya mendapatkan bonus novel bagus dari himalaya. Setelah berucap terimakasih dan membayar di kasir, kami pun merasa haus, karena seharian berkeliling di mall. Foodcaourt yang ada dilantai paling atas menjadi tempat persinggahan kami yang selanjutnya. Memesan kopi coklat dingin kami duduk di kursi dengan kaca besar yang ada pemandangan keluar, tepat disamping sekumpulan wanita cantik dan putih yang sedang minum minuman yang sama dengan kami. Secara tidak sadar, ternyata kawan saya telah merencanakan untuk duduk di temapat yang sedang kami duduki jauh sebelum kami memesan minuman. Alasan klasik menjadi alibi “ada cewek cantik man, ayo duduk disana” itu ucapan kawan saya.
Wanita-wanita cantik itu, sungguh memiiliki gaya, dan menjadi pusat perhatian di foodcourt. Baju mereka, handphone, gadget, tas, cara bicara, dan apa yang dibicarakan sungguh memiliki level yang cukup tinggi dalam segi ekonomi. Didepan saya ada seorang eksekutif muda dengan tas hitam yang sangat penting. Ipad dan beberapa situs yang sedang ia buka, menemani makan siang sang eksekutif muda, nampaknya ia pengusaha yang memiliki mobilitas tinggi. Didepan kami ada pemandangan yang sangat kontras dan itu yang membuat sadar hati saya bahwa saya sudah sekit melayang dan lupa dengan saudara.
Lantai empat gedung mall banyak orang yang sedang menikmati makanan dan minuman yang luar biasa. Berbincang tentang hal-hal berbau kekayaan life style yang sungguh highclass dan candaan ringan yang membuat tertawa lepas. Didepan pemandangan dibalik kaca, terhampar perumahan rakyat yang kurang teratur, anak-anak yang bermain layangan, ibu hamil dan anaknya yang cuku banyak, bapak tua yang sedang mencangkul kebunnya, beberapa pemuda yang bermain gitar dann semua itu dilakukan dengan sederhana. Dibalik kaca mall yang megah, ada pemandangan rakyat yang sederhana dan apa adanya serta dangan apa yang mereka miliki seada-adanya.
Sangat berbanding terbalik dengan yang ada dalam gedung mall ini, saat itu saya berkata “tolong keluarkan saya dari titik jenuh ini” dan sedikit ditambah dengan harapan “saya harap saya kembali kejalur miskin”. Apa yang saya lhat di mall adalah kemewahan yang individual saling berlomba untuk menjadi yang paling dilihat dan paling terpandang. Sedangkan di luar sana, orang biasa sedang bekerja sama untuk melepaskan diri dari jurang yang bernama kemiskinan, dan yang paling indah mereka lakukan itu bersama-sama. Setelah saya pulang saya mendapat nilai baru, pemikiran baru, dan pelajaran dari guru alam yang baru.
No comments:
Post a Comment