Entah setan apa yang menjadi
panutan saya. Tengah malam rabu kemarin saya terbangun oleh sesuatu di pinggir
jalan depan kamar kos. Sekitar pukul 23:30 WIB, saya hanya bisa termenung
mencari flasdisk, bukan apa-apa karena memang hanya kegilaan yang over terhadap
hobi saya yang baru ini. Yah, bloging setiap malam, yang jelas adalah jika
online tiap malam, warnet (warung internet) harganya lebih murah. Maklum-lah,
mahasiswa keuangannya terbatas jadi carinya yang murah-murah.
Setelah cuci muka agar terlihat
lebih segar, saya langsung bergeser ke warnet yang persis ada di sebelah kos.
Berbekal beberapa ribu rupiah dan seperangkat flasdisk serta micro SD bekas
kamera dygital yang sudah tak berfungsi akhirnya saya mulai mengerjakan
blog-blog yang sudah saya buat beberapa bulan kebelakang.
Mulai dengan blog baru untuk
tugas redaksi fiqih dari kelas fiqih di kampus, selanjutnya mulai mendandani
blog-blog saya yang sudah lama terbit. Sembari bloging sesekali saya buka
facebook dan twitter, untuk melihat aktivitas-aktivitas kawan-kawan yang kenal
maupun tak kenal sama sekali. Website jackie Chan sang master laga dari
hongkong. Yah, jackie adalah salah satu pemain film action yang saya gemari,
terlebih jackie Chan memiliki visi besar dalam hidupnya yang menjadi inspirasi
bagi saya.
Sampai pukul 03:00 WIB dan itu tentu
sudah di hari Rabu, blog yang saya kerjakan masih dirasa belum sesuai harapan. Jari-jemari ini masih lincah mengetik kata demi
kata sebagai representasi dari diri dan pandangan saya tentang sesuatu,
walaupun mata ini sudah sejak lama sayu menahan kantuk.
Secara simultan semua yang ada
dalam tubuh saya terlonjak ketika adzan subuh berkumandang dan ternyata hampir
setengah malam saya berada di warnet itu. Sungguh gila dan mungkin lebih dari
stadium tujuh, intinyya saya sudah melampaui batas kebiasaan.
Semua blog sudah mendapat
sentuhan dan perhatian yang lebih dari kasih sayang dari user gila ini.
Akhirnya saya berhenti dari kegilaan bloging di pukul 05:00WIB. Sudah saatnya
opratos warnet menerima lembar-lembar uang sewa selama semalam suntuk. Saya
harap suatu hari nanti saya tidak berlebihan lagi, atau mungkin lebih parah
dari yang nanggap wayang tiga hari tiga malam.

No comments:
Post a Comment