Tuesday, August 23, 2016

Fase Ke-2 : Kendalikan Ego dan Ambil Tanggung Jawab

Anggaplah selesai semua urusan yang ada di Fase pertama, masa sekolah, masa bermain, eh,, pacaran dan lain lain. Setiap orang pasti akan berpindah, bergeser dari satu kondisi ke kondisi yang lain, baik itu kondisi yang memang diharapkan ataupun kondisi terpahit sekalipun. Tidak ada yang tahun jalan ceritanya kecuali sang Maha Sutradara.

Beberapakali saya pernah bercerita tentang masa - masa senang sampai kegalauan tingkat dewa, dari kesemua yang pernah saya lalui dalam hidup, masing-masing kejadian, memberikan tambahan bekal hidup untuk Saya. Bekal yang tidak pernah akan bisa dinilai, bekal yang tidak bisa habis, PENGALAMAN.

Salah seorang teman saat kuliah, yang telah meninggal dunia pernah berkata sesuatu yang penting dan masih Saya ingat sampai hari ini, itu pun dia katakan saat pertama kali kami berkenalan di belakang kampus usai mendaftarkan diri untuk jadi Mahasiswa. "Buat saya, yang penting pengalaman belajar dan pengalaman usaha jadi orang bener itu aja. Sisane yo solat sing bener, ra neko-neko neng dunyo, ra lali karo wong tuo ne" ucapnya sambil menyelesaikan makan gorengan di angkringan belakang kampus. Awalnya mungkin saya agak kurang faham apa yang dia ucapkan, bukan karena pakai bahasa jawa, tapi karena tiba-tiba dia nasehatin Saya tanpa saya minta dan tanpa ada kejadian sebelumnya. Setidaknya itulah warisan sangat berharga dari seorang teman kampus.

Sekarang saya sudah ada di usia 23-24 masih masa emas, masih muda, masih, bergairah dalam hidup dan mencari banyak pengalaman. Tapi yang paling amat Saya syukuri adalah, Saya juga sudah berstatus sebagai suami dari seorang istri yang baik dan jadi seorang Ayah dari putri yang cantik dan lincah. Sudah dua tahun Saya menikah dan banyak sekali perubahan pada diri Saya, terutama jalan pemikiran yang setiap hari harus berhadapan dengan segenap tanggung jawab.

Sesekali Saya pernah berharap untuk bisa melakukan apa saja yang saya inginkan dengan berdasarkan pada ego dan gairah bocah yang masih perlanta perlente. Tapi sekarang semua sudah ada pagarnya. Berkat Saya menikah setidaknya saya sudah sah bisa di panggil Bapak, jadi kalau di panggil dalam sebuah acara, yah depanya ada kata Bapak, kalau di surat ya jadi Yth Bapak. Sebenarnya bukan masalah panggilan saja, perpindahan gaya kehidupan dari si Lajang Bujang jadi si Bapak, membuat saya jadi lebih bertanggung jawab dan serius dalam menjalani kehidupan.

Kebahagiaan yang dulu hanya Saya cari untuk diri pribadi, sekarang harus saya cari kebahagiaan yang lebih agar bisa Saya bagi untuk istri dan anak tercinta. Semenjak hati dan jiwa ini berikrar di depan penghulu, orang tua, dan para saksi, sejak saat itu pula saya merasa dan harus menjadi pria dewasa, bukan lagi remaja, bukan lagi abg.

Wejangan dari para Tetua, bahwa pernikahan itu tidaklah sulit dan sama sekali tiada kemudahan. Semua akan berjalan sesuai alurnya dan sangat akan dipengaruhi oleh prinsip dari si Suami dan si Istri. Prinsip dan Idiologi mereka tentang jalan kehidupan mereka harus sama atau disamakan dan dipadu padankan, Prinsip yang berbeda dalam berumah tangga akan menjadi ganjalan dan bahkan penghalang dari usaha untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain.

Diawal tahun pernikahan, Saya berusaha bersama Istri untuk saling terbuka satu sama lain dan menyamakan secara perlahan prinsip-prinsip hidup kami. Ini bukan fase yang sama saat berpacaran, prinsip yang dibicarakan saat pacaran jauh berbeda dengan saar pernikahan, Terutama tentang kebahagiaan, bagi masing-masing. Ini penting karena jika definisi bahagia kita berbeda, maka satu sama lain tidak akan pernah merasa terpenuhi hak kebahagiaannya.

Terdengar mudah, tapi tak sesederhana mengucapkannya. Pertengkaran, sakit hati, atau bahkan rasa tak peduli, bahkan pernah muncul dalam hati, hanya karena marah akan suatu yang tidak cocok. Ini bukan tentang cinta-cintaan saja, lebih dari itu berumahtangga adalah UPGRADING CINTA ke Level yang lebih tinggi.

Teman dari Ibu mertua pernah memberi nasihat pada kami, saat itu kami sedang jalan-jalan di pantai Parangteritis Jogja. Beliau memberikan gambaran, atau skema dalam rumah tangga yang umum terjadi. Satu tahun pertama, pasang suami istri yang masih hangat-hangat pengantin, akan merasa dunia ini sudah sangat lebih dari cukup dengan adanya KAMU dan AKU bersama selamanya. Tahun kedua, Suami dan Isrri bersiap untuk menghadapi kerasnya hidup dan kenyataan bahwa dunia itu dihadapi dengan KENYATAAN bukan dengan mimpi cerita novel, film romantis yang kebanyakan Happy Ending. Tahun kedua itu tahun ancang-ancang.

Susah, senang, sedih, bahagia kita lewati bersama, nah barisan kata itu akan dijalankan di Tahun ke tiga sampai ke tujuh. Ini baru setengah pertandingan. Kalau sampai Tahun ketujuh masing-masing merasa bahagia, maka Insyaallah kedepannya tak ada masalah yang tak bisa dihadapi. Ujian tengah semester pernikahan ada di tahun ke 10, Anda lulus, kedepannya Insyaallah mulus.

Wejangan yang diberikan dengan penuh keyakinan bahwa kami, akan dapat melalui itu semua. "Dan semoga semuanya lancar" itu harapannya di akhir wejangan. Walau tidak menjadi patokan, tentang fase- fase usia pernikahan, tapi bisa menjadi sedikit gambaran. Matangnya usia pernikahan juga tidak menjadi jaminan akan menjadi langgeng, mentahnya usia pernikahan juga tiada jaminan retak dalam waktu dekat. Semuanya tergantung pada usah masing-masing pasangan untuk saling memahami, menghargai, saling menjalankan kewajiban dan memenuhi hak dengan seikhlas hati. Detik demi detik yang dilalui bersama harus terus disyukuri sebagai anugrah dalam hidup kita, agar tidak menjadi ingkar atas gombalan yang pernah dilontarkan saat PDKT,

Setelah tulisan ini, Saya sedang memikirkan rangkaian kalimat untuk menggambarkan betapa bahagianya Saya dan Istri menikmati waktu bersama sang buah hati. Read More di postingan selanjutnya. (Asli pegel ngetik sambil berdiri, rekor lah, untuk pertama kalinya saya nulis blog sambil berdiri dari paragraf awal sampai titik akhir ....TITIK).

No comments: