Saturday, July 25, 2015

Behind My Long Journey


Journey, semua orang berawal dari satu titik dan kemudian bergerak menuju titik berikutnya terus menerus hingga menuju titik terkahir yang dia jalani. Kehidupan juga bisa diandaikan sepertihalnya sebuah perjalanan panjang dengan berbagai cerita didalamnya, ada yang asin, manis, pahit, asam, bahkan hambar, sepertihalnya rasa dalam sebuah makanan. tulisan saya ini akan mengawali cerita perjalanan kehidupan saya hingga saat ini, dan hingga saat terakhir jari jemari ini tergerak untuk menekan tombol-tombol huruf di keyboard.

Saya akan mengawali cerita dari sebuah kota di selatan Jawa Barat. Dikelilingi pegunungan dan bukit-bukit, hamparan pesawahan dan perkebunan dengan suhu udara yang cukup dingin, benar-benar nuansa desa yang asri. Kabupaten Garut, disana ada sebuah daerah yang disebut samarang dan secara administratif menjadi wilayah Kecamatan. 

Disebuah desa bernama Padamulya disebuah lingkungan dimana antara satu rumah dengan rumah lainnya sangat berdekatan. Ada beberapa kepala keluarga disana yang rata-rata berprofesi sebagai petani dan pedagang hasil pertanian. Lingkungan yang sangat sederhana dengan rumah tipe Indonesia 70-an dan beberpa rumah panggung khas orang Sunda, dikelilingi oleh pepohonan dari segala jenis pohon dan perkebunan serta pesawahan yang luas. Hadirlah dua keluarga besar yang jika diurut dari trah (silsilah leluhur) masih saudara dan dengan tempat tinggal yang saling berdekatan.


Keluarga Abah Endon.alm dan Mak Imus.almh (Hj. Maryam) dan keluarga Abah Adna.alm dan Mak Obi.almh, merekalah yang akhirnya ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi Kakek dan Nenek saya. Abah Endon dan Mak Imus adalah orang tua dari Ayah saya (H.Odang Maskan) pria yang sangat bersahaja dan cinta damai, penuh tanggung jawab dan sosok ayah idaman dan saya sangat menghormati beliau. Menurut data terakhir dari cerita keluarga, Ayah saya adalah anak terakhir (bungsu:istilah Sunda) dari 9 bersaudara, jelas merupakan keluarga yang sangat besar. Suatu yang lumrah bagi keluarga di pedesaan jaman dahulu. Dan sampai saat ini alhamdulillah saya masih berkesempatan untuk mengenal seluruh paman dan saudara-saudara dari satu Trah.

Satu keluarga besar dari Abah Endon dan Mak Imus tinggal disebuah rumah yang cukup besar dikalangan orang desa saat itu. Rumah klasik Indonesia dengan ruang favorit keluarga adalah Dapur luas dengan Hawu (Tungku pembakaran kecil dapur rumah tangga warga sunda dengan bahan bakar kayu kering) di ujung ruangan. Tempat yang hangat dan menjadi pusat berkumpulnya seluruh anggota keluarga untuk membicarakan berbagai hal dan termasuk untuk mencurahkan kasih sayang satu sama lain.

Sekarang kita menuju rumah tetangga persis dihadapan rumah dari keluarga Abah Endon dan Mak Imus. Ada rumah yang hampir sama klasiknya namun dengan dua lantai. Didalam rumah itu yang dihiasi beberapa tanaman bunga dihalaman depan terdapat keluarga Abah Adna dan Mak Obi dan menurut cerita keluarga ada enam putra-putri dan salah satunya adalah Ibu saya (Hj. Titi yang sebelumnya bernama Abar, tentu dengan cerita tersendiri nantinya) sebagai anak ke lima Abah Adna dan Mak Obi.

Kedua keluarga besar ini hidup bertentangga dengan rukun dan harmonis, Seringkali kedua keluarga ini melakukan berbagai hal bersama seperti kegiatan kemasyarakatan ataupun kegiatan kekeluargaan. Dari cerita Ayah, Abah Endon adalah seorang Tetua (yang dituakan dimasyarakat atau bisa dibilang tokoh yang dijaman sekarang disebut RW) ini salah satu alasan keluarga kami sangat dikenal dimasyarakat desa Padamulya.

Saya tak mendapat banyak cerita tentang bagaimana dahulu kedua keluarga ini sangat akrab. Tapi ada satu cerita penting dari Ibu tentang asal usul keluarga Ayah dan Ibu. Suatu ketika Mak Obi dan Mak Imus sedang membersikan peralatan dapur bersama disebuah tempat cuci dekat rumah mereka, saat itu Ibu masih usia sekolah dasar dan Ayah Sudah SMP entah apa namanya dulu. Angin sepoy-sepoy sejuk siang itu dengan kucuran air jernih yang mengalir deras murni dari pegunungan, tiba-tiba Mak Imus membuka pembicaraan dengan Mak obi saat mencuci piring bersama.

Mak Imus: "Nyi, kumaha yeuh lamun si Abar teh jang si bungsu we, dicandak ku abdi?!"
Mak Obi: "Nya Insyaallah atuh, upami mah tos ditangtosken kunu maha kawasa, Insyaallah upami tos jodo mah moal kamana. Atuh ayeunamah masih keneh leutik barudak na oge"
Itu percakapan asli yang saya dengar dari Ibu. Secara sederhana saya terjemahkan bahwa Mak Imus meminta Mak Obi untuk saling monjodohkan antara Ayah dan Ibu pada usia yang masih belia. "Nyi Obi, gimana kalau neng Abar kita jodohkan sama anak bungsu saya?!" Ucap Mak Imus. "Ya Insyaallah kalo sudah ditentukan oleh yang maha kuasa, insyallah kalo sudah jodo gak kemana, lagi pula mereka kan masih kecil." jawab Mak Obi. Dari perbinicangan itulah hingga pada akhirnya Ayah dan Ibu bersatu membangun keluarga yang bahagia. Sekedar informasi bahwa Ayah dan ibu terpaut usia 8 Tahun saat menikah usia Ayah 25 Tahun dan terbilang terlambat menikah saat itu, sementara Ibu berusia 17 Tahun.

Saat muda dari Ayah dan Ibu tidak saling dekat satu sama lain, setelah lulus sekolah dasar Ibu pergi bersama kakanya (Paman Saya Uwa Ade) untuk belajar berdagang di Cianjur. Sementara Ayah Sekolah SMA di Bandung sembari berdagang bubur kacang. Mereka masing-masing memiliki cita-citanya sendiri namun tidak menyangka akan berjodoh dan hidup bersama sebagai suami Istri, Setelah kepulangan Ayah dan Ibu dari rantau, Mereka menikah secara sederhana hanya dirayakan keluarga dan lingkungan tetangga dan tidak ada resepsi seperti masa sekarang hanya akad nikah dan makan-makan keluarga.

Pernikahan sederhana bahkan Ibu saya sama sekali tidak menggunakan gaun, hanya baju biasa rapih dan sederhana, dan kemudian Ayah pun hanya menggunakan baju koko dengan kopiah hitamnya. Dari pernikahan sederhana itu namun ternyata bisa membangun keluarga yang menurut saya sangat luar biasa. Bulan madu, tidak ada bulan madu, setelah menikah ya, beraktivitas seperti biasa namun bedanya sekarang tinggal dalam satu kamar dirumah Mak Obi dilantai dua. Kebiasaan romantis yang amat berharga bagi Ayah dan Ibu setiap sore diawal-awal pernikahan mereka adalah duduk berdua di sebuah kursi dibalkon lantai dua yang menghadap perbukitan yang terhampar dengan perkebunan yang luas dan cahaya mega sore hari indah menghiasi, saling mengenggam tangan dengan mesra dan malu-malu. Mereka sampai saat ini menyebut moment itu paling romantis dan merupakan pacaran yang sebenarnya bagi mereka.

Walaupun kedekatan mereka sebelum pernikahan berlangsung tidak lama dan hanya saling tahu dari keluarga, namun Ayah dan Ibu ikhlas menjalani dengan penuh kasih sayang dan cinta yang mereka tumbuhkan bersama. Kabarnya mereka memulai rumah tangga dengan sebidang lahan bertani dan berkebun. Mungkin memang bukan nasib-nya dalam berkebun dan bertani karena usaha mereka tidak terlalu maju. Hingga pada akhirnya mereka hijrah, merantau ke Kota Sukabumi, atas dasar informasi dari Uwa Ade paman saya yang berdagang di Cianjur, Paman berkata bahwa ia sudah menyewakan sebuah toko dipasar Pelita, pasar yang baru dibangun di kota tersebut. Penuh keberanian dan percaya diri serta mengantungkan cita-cita bersama untuk membangun keluarga yang bahagia. Dan keputusannya diambil Ayah dan Ibu Pindah ke Kota Sukabumi untuk berdagang di pasar.

Ayah memiliki cita-cita yang sangat sederhana namun ternyata menjadi kekuatan besar dalam perjalanan biduk keluarga. Disuatu malam saat Ayah akan pulang ke Garut setelah sekolahnya selesai di Bandung, Ayah naik angkutan umum dan saat itu sedang hujan disamping bus yang Ayah tumpangi ada sebuah mobil sedan lancer terbaru saat itu di tahun 80-90an yang memiliki lampu belakang yang terang dan cukup lebar. Ayah sangat memperhatikan mobil itu yang selalu mengerem dengan kilau lampu belakang yang terang kemudian berbelok masuk kesebuah rumah besar yang bisa dibilang gedongan rumah orang kaya dengan pagar yang tinggi. dan saat itu dalam hati Ayah berkata "ingin seperti orang didalam mobil itu" (kaya, serba berkecukupan). Pernah juga saat berjualan di rancaekek Bandung Ayah melihat segerombolan orang yang beru pulang kerja menggunakan kemeja putih dan dasi macam-macam warna menenteng tas keluar dari komplek perkantoran atau pabrik. Ayah juga ingin seperti meereka pekerja kantoran, walau akhirnya tidak terjadi karena Ayah sadar karena bekerja diorang lain alias jadi karyawan sangatlah terkekang penuh aturan, sedangkan berdagang bebeas lepas tidak terikat.

Disisi lain Ibu memiliki cita-cita yang juga sederhana dan standart orang desa kala itu, menjadi orang kota dan punya banyak uang. Memang terdengar matrealistis, namun ternyata makna yang tersirat adalah agar Ibu bisa membahagiakan keluarga dan memberikan tempat berharga bagi keluarga. Bisa dibilang dari sekian banyak sodara, Ibu adalah orang yang paling rajin, paling kukuh, dan paling bersihan. Pribadi Ibu yang seprti itulah yang membuat dirinnya disiplin dalam mengejar cita-cita. Satu hal yang juga sangat aku banggakan dari Ibu adalah sejak kecil Ibu rajin sikat gigi, setiap mendapat uang jajan Ibu sering menabung untuk nantinya membeli sikat dan pasta gigi hanya untuk dirinya sendiri. Bisa jadi Ibu saya adalah pelopor tertib kesehatan gigi Indonesia dan menerapkan kebiasan Sikat Gigi Sehat. Hingga usianya saat ini giginya sangat kuat, bersih dan sehat dan hampir tidak ada lubang gigi. Terlebih Ibu sangat bawel pada anak-anaknya soal sikat gigi.

Diawal keberadaan Ayah dan Ibu di Kota Sukabumi mereka tinggal disebuah kontrakan kecil di daerah Cijangkar dekat rel kereta api dan hingga saat ini kami masih tinggal di Cijangkar walaupun bergeser ke daerah agak selatan menjauh dari rel kereta. Di kontrakan itu mereka memulai dengan kehidupan yang sangat hemat, irit, dan amat sederhana. Mungkin memang sudah nasib, Ayah dan Ibu cukup beruntung Pasar yang baru dibangun membuat toko mereka sangat ramai pembeli, walaupun begitu Ayah dan Ibu tetap dengan kesederhanan dan menabung hampir semua keuntungan mereka untuk memiliki rumah sendiri dan toko sendiri.

Suatu hari ada cerita yang cukup menggelikan namun juga menyedihkan dan penuh makna ketabahan. Ayah memberikan uang kepada Ibu untuk membeli bahan makanan untuk satu minggu, Uang sedikit dan bisa makan seminggu dan Ibu berinisiatif membeli Bahan Krecek Trasi dengan ikan asin kecil-kecil. Sebenarnya Ayah bermaksud bahwa bahan makanannya yang murah namun bervariasi, namun ternyata Ibu membeli bahan krecek trasi untuk satu minggu, alhasil Ayah dan Ibu makan Goreng Krecek Trasi selama seminnggu tidak berganti-ganti. Awalnya ayah terlihat lusuh wajahnya seperti mengeluh, tapi Ayah tidak marah pada Ibu, Ayah dan Ibu akhirnya sama-sama menikmatinya.

Tahun 1992 Ibu sudah mengandung saya sebagai anak pertama mereka. Kalau tidak salah sebulan sebelum saya lahir Ayah mengantar Ibu pulang ke Garut agar saat melahirkan bisa dijaga keluarga. Beberapa bulan sebelumnya kakek (Abah Endon) sesekali datang untuk menjenguk Ayah dan Ibu dan disaat itulah bisa disebut hari bahagia dan mengenyangkan bagi Ayah dan Ibu karena pastinya Abah selalu membawa makanan enak, bukan karena sehari-hari tidak makan enak, hanya saja "agak lebih enak lagi" jika ada Abah yang membawakan makanan. Tidak hanya Abah Endon tapi juga Abah Adna yang sesekali berkunjung melihat perkembangan dari anak mantunya yang sedang memulai hidup berkeluarga.

Beberapa jam sebelum saya lahir, Ibu masih beraktifitas seperti biasa. Keluarga sudah menanti kehadiran anggota baru yang akan segera lahir, mereka meunggu dengan sabar penuh harap dan doa, menunggu di ruang keluarga + dapur yang menyatu dengan Hawu alias tungku yang menyala sedang memanaskan air untuk membuat kopi dan minuman lainnya. Suasana hangat terasa hingga akhirnya suara Ibu berteriak. Ibu mulai merasakan kontraksi persiapan kelahiran saya, dan Ayah bersama paman langsung pergi menemui Paraji (Dukun Beranaknya orang Sunda), Ayah berlari kerumah dukun beranak dan menjemputnya untuk datang kerumah dan membantu proses persalinan. Semua keluarga dari Ayah dan Ibu berkumpul di rumah Abah Endon, Mak Obi dan Mak Imus tidak hentinya melafalkan doa untuk keselamatan saya dan Ibu.

Kira-kira jam 10 Malam Hari Jum'at tanggal 27 November 1992 Saya lahir kedunia disebuah keluarga yang hangat dan bahagia. Penuh kebahagiaan keluarga ini menyambut saya yang masih bayi merah dan terdengarlah Ayah yang membisikan suara Adzan memperkenalkan siapa Tuhan saya dan apa yang harus saya lakukan di dunia ini. Lukman Solihin itulah nama yang dimaktubkan pada saya hasil pemikiran yang mendalam serta doa harapan dari keluarga, dari Ayah dan Ibu.

No comments: