Semburat cahaya matahari masuk dari celah jendela yang tak begitu besar. Layaknya sebuah gerbang besar terbuat dari besi, lambat dan begitu berat untuk terbuka, demikian pula kedua mata ini yang sulit untuk menerima cahaya masuk dan memberikan warnanya.
Manusia lahir untuk menjalankan fitrahnya sebagai pemimpin bagi dirinya dan bagi alam semesta. Pemimpin seharusnya memiliki kualitas tertinggi dalam berbagai hal, namun lihatlah diri ini, lemah dan melemahkan. Sudah cukup banyak waktu terbuang, kadang bermanfaat, tapi lebih banyak ke sia-siaan yang terjadi. Hanya bersyukur masih bisa melihat dan mencoba membangkitkan tubuh di pagi hari.
Jam ? , pertanyaan klasik dan hina jika dijawab. Terlambat melakukan berbagai hal dipagi hari, serasa kehilangan arah untuk seharian. Benar bila leluhur kita sering mengingatkan untuk terbangun dipagi hari agar tidak hancur dimalam hari.
Memiliki hutang itu tidaklah nyaman, terlebih jika hutang itu menumpuk dan jatuh tempo. Diri ini terbelit hutang teramat banyak. Hutang kepatuhan pada yang maha kuasa. Berlisan taat, berjiwa hianat. Lalu apa selanjutnya?! Hanya bisa berharap, harapan dari manusia-manusia bermasalah berat.
No comments:
Post a Comment