Friday, February 20, 2015

Dipenghujung Muda Ku


Setiap orang punya cerita indah dalam perjalanan hidupnya. Dan yang satu ini adalah cerita indah saya bersama istri tercinta. Mengawali hubungan kami dari sebuah kelas dimana kami sama-sama berkuliah.

Yogyakarta, menjadi tempat kami untuk pertamakalinya bertemu dan terus saling mengenal hingga mengambil satu keputusan besar untuk meninggalkan masa muda kami masing masing.

Sebenarnya memang sya sejak mulai fubertas, selalu bicara soal pernikahan, menikah, berkeluarga dll. Kadang teman-teman di sekolah dulu selalu menganggap aku terlalu visioner atau bahkan kelewat dewasa sebelum waktunya. Usia 15 Tahun di zaman sekarang ngobrol soal nikah "its imposible" termasuk langka dan perlu dilestarikan bahkan di budidayakan.

Berawal dari perasaan sakit hati karena harapan yang hilang. Lalu Tuhan dengan cara-Nya mempertemukan saya dengan calon pendamping hidup, pasangan yang Tuhan janjikan sejak manusia diciptakan.

Sejujurnya dulu pertama bertemu sejak semester 1 kuliah, tapi waktu itu tak ada sedikitpun perasaan, bahkan cenderung saya tidak suka dengan wanita yang satu ini dengan penampilan serba berlebihan, menurutku. Kami tidak sengaja dekat di semester 6 saat kami satu kelas dan satu kelompok pula. Kelas produksi siaran televisi, kelas yang paling padat dan yang paling kerja keras harus terus bersama kelompok tugas. Dan dari kelompok itulah kami semakin intens bertemu dan berbicara banyak hal. Sya juga baru tahu kalau nama lengkapnya Vivi Suci Wulandari.

Dia yang sangat bawel dalam kelompok, dia yang sangat mengatur dan dia yang sangat jelas tiba-tiba ada di hati. Cantik standart, body ya satandart juga, tapi lebih dari itu dia punya prinsip hidup yang kuat. Pengalaman hidup yang menarik dan tentu perhatian yang dalam.

Dosen kami, Ibu Elvi Listyorini yang kini sudahada di sisi Tuhan. Kami sangat menyayanginya, karena beliaulah yang secara terang - terangan didepan kelas mengatakan bahkan saya dan vivi sangat serasi dan akan jadi jodoh serupa dengan guru dari prof. Habiebie dan Ibu Ainun.

Setelah kami mengalami berbagai hal, masalah, kesenangan, dan kebingungan dalam 1 tahun hubungan kami. Dan dia sudah lulus duluan. Kembali terbesit dalam hati "love is responsible" dan jika saya mencintainya, maka saya harus mengambil tanggung jawab lebih atas dirinya.

Orangtua saya pernah menolak permintaan soal pernikahan, dan semoga yang satu ini berbeda. Melalui sebuah surat bertuliskan rangkaian ayat dalam surat Al-Fatihah Dan sebuah permohonan untuk merestui hubungan kami serta sebuah foto sebagai wakil karena dia tidak pernah bertemu dengan orangtua Saya sebelumnya.

Sebuah kejutan yang tak terduga dari penantian yang mencemaskan. Akhirnya 11 April 2014, 3 hari sebelum ulang tahunnya. Saya dan keluarga datang kerumah vivi untuk melamarnya. Senyum malu bahagia terurai di wajah kami berdua saat orangtua kami saling setuju dan berharap acara segera dilaksanakan.

Ada yang menarik dari semua ini. Mulai dari orangtua saya yakin ini waktu yang tepat menikahkan anaknya meski saya belum lulus kuliah, karena ucapan nenek saya yang sudah sangat sepuh dan sangat mengharapkan cucu dari anak terakhirnya segera menikah. Ada pula kisah dimana saya dan orangtua tidak pernah sama sekali berkunjung kerumah Vivi dan keluarga. Sama seperti Vivi yang juga tidak pernah sekalipun bertemu dengan orangtua saya sebelumnya dan untuk pertamakali bertemu saat acara lamaran beberapa jam sebelum akhirnya kami bertunangan.

No comments: