Setiap orang punya cerita indah dalam perjalanan hidupnya. Dan
yang satu ini adalah cerita indah saya bersama istri tercinta. Mengawali
hubungan kami dari sebuah kelas dimana kami sama-sama berkuliah.
Sebenarnya memang sya sejak mulai fubertas, selalu bicara soal
pernikahan, menikah, berkeluarga dll. Kadang teman-teman di sekolah dulu selalu
menganggap aku terlalu visioner atau bahkan kelewat dewasa sebelum waktunya.
Usia 15 Tahun di zaman sekarang ngobrol soal nikah "its imposible"
termasuk langka dan perlu dilestarikan bahkan di budidayakan.
Berawal dari perasaan sakit hati karena harapan yang hilang. Lalu
Tuhan dengan cara-Nya mempertemukan saya dengan calon pendamping hidup,
pasangan yang Tuhan janjikan sejak manusia diciptakan.
Sejujurnya dulu pertama bertemu sejak semester 1 kuliah, tapi
waktu itu tak ada sedikitpun perasaan, bahkan cenderung saya tidak suka dengan
wanita yang satu ini dengan penampilan serba berlebihan, menurutku. Kami tidak
sengaja dekat di semester 6 saat kami satu kelas dan satu kelompok pula. Kelas
produksi siaran televisi, kelas yang paling padat dan yang paling kerja keras
harus terus bersama kelompok tugas. Dan dari kelompok itulah kami semakin
intens bertemu dan berbicara banyak hal. Sya juga baru tahu kalau nama
lengkapnya Vivi Suci Wulandari.
Dia yang sangat bawel dalam kelompok, dia yang sangat mengatur dan
dia yang sangat jelas tiba-tiba ada di hati. Cantik standart, body ya satandart
juga, tapi lebih dari itu dia punya prinsip hidup yang kuat. Pengalaman hidup
yang menarik dan tentu perhatian yang dalam.
Dosen kami, Ibu Elvi Listyorini yang kini sudahada di sisi Tuhan.
Kami sangat menyayanginya, karena beliaulah yang secara terang - terangan
didepan kelas mengatakan bahkan saya dan vivi sangat serasi dan akan jadi jodoh
serupa dengan guru dari prof. Habiebie dan Ibu Ainun.
Setelah kami mengalami berbagai hal, masalah, kesenangan, dan
kebingungan dalam 1 tahun hubungan kami. Dan dia sudah lulus duluan. Kembali
terbesit dalam hati "love is responsible" dan jika saya mencintainya,
maka saya harus mengambil tanggung jawab lebih atas dirinya.
Orangtua saya pernah menolak permintaan soal pernikahan, dan
semoga yang satu ini berbeda. Melalui sebuah surat
bertuliskan rangkaian ayat dalam surat
Al-Fatihah Dan sebuah permohonan untuk merestui hubungan kami serta sebuah foto
sebagai wakil karena dia tidak pernah bertemu dengan orangtua Saya sebelumnya.
Sebuah kejutan yang tak terduga dari penantian yang mencemaskan.
Akhirnya 11 April 2014, 3 hari sebelum ulang tahunnya. Saya dan keluarga datang
kerumah vivi untuk melamarnya. Senyum malu bahagia terurai di wajah kami berdua
saat orangtua kami saling setuju dan berharap acara segera dilaksanakan.

No comments:
Post a Comment