Wednesday, February 2, 2011

Hilang Arah


Di posting yang pertama ini saya tidak ingin mengeluh. Berencana untuk melakukanyang terbaik, hah,,,, itu hanya rencana, bukan dalam artian menyepelekan, tapi sungguh ini tak sesuai rencana.

Saat awal masuk perguruan tinggi sungguh saya hati ini bisa dikatakan bergelora menyambut kehidupan baru sebagai mahasiswa. Semangat memang seperti halnya iman yang selalu naik turun, terkadang menggebu, terkadang lenyap di tengah keramayan kuburan.

Secara jujur saat ini ada yang kehilangan Tuhan, atau mungkin secara tak sadar menghilangkan Tuhan. Berjalan setiap hari menjalankan aktifitas biasa dengan tempat dan rekan yang biasa pula. Bila Anda membaca tulisan ini dan merasa seperti dalam labirin level satu mungkin bisa jadi perasaan Anda benar, karena saat saya menuliskan ini ada kegalauan dan seperti kereta yang keluar dari rel hingga terjatuh ke dalam jurng yang gelap.

Seorang musafir pernah berkata "aku tak pernah hawatir walau harus kehabisan bekal, karena aku yakin takkan pernah tersesat, kau tahu kenapa? karena aku mengikuti Tuhan".

Saya harap Anda tidak berpikir bahwa ini seperti cerpen filsafat karena nilai mata kuliah filsafat saya belumlah terlalu bagus. Dari ucapan musafir tadi saya tak pernah bisa faham, hingga saat ini saya merasa tersesat dan kehilangan arah tujuan hidup saya. Hampir setiap hari saya menuliskan cita-cita dan harapa yang semoga bisa menjadi motivasi, tak lupa didorong oleh selembar foto dari orang-orang yang sangat berarti bagi saya. Motivasi tinggallah motivasi, kejenuhan hati, dan kebutaan akan kenyataan membuat saya tak pernah merasa tenang. Selalu saya rasakan seperti ada yang kurang walau saya merasa cukup.

Ibadah, itu yang tersirat dalam pikiran, mungkin ibadah saya kurang memadai untuk mendorong saya menuju rasa hidup yang bahagia. Jujur, untuk masalah ibadah saya seperti petugas kebersihan pemerintah daerah yang rutin membersihkan kota setiap pagi dan menunggu pagi berikutnya untuk membersihkan sampah yang bertumpuk. Mungkin gambaran petugas kebersihan ada pada diri saya dalam hal beribadah, rutin beribadah saat sampah-sampah dan kotoran dosa telah menumpuk, dan jika telah merasa sukses bertobat, saya malah duduk menunggu sembari kembali menumpuk dosa untuk dibersihkan di fase berikutnya.

Saya bertanya, apakah besok seperti kemarin? saya harap tidak.

ref: pic by erwin-rachim.blogspot.com

4 comments:

Anonymous said...

Sama saya pun saat ini sedang merasakan seperti itu, hidup terasa gelap... Tak ada tujuan pasti, hidup hanya hidup tapi terasa tak berarti...
Semoga Allah SWT memberikan kita semua petunjuk menuju jalan Cahaya-Nya amin...

Anonymous said...

Saat ini saya merasa benar2 bingung dgn hidup, saya merasa sangat bosan. Pernah saya merasa ingin mati saja, tapi kemudian saya sadar betapa bodohnya ucapan itu, Allah mewujudkan orang pasti dgn sebuah sbb. Dan skrg saya masih mencari sebab itu.

Lukman Solihin said...

Makasih yah,, sudah komen dan mau baca blog saya. Semoga apa yg dihadapi kalian bisa segera selesai

orenjibaka said...

Sebuah renungan yg sangat menampar..
Kembalikan tujuan sbgaimana untuk apa manusia diciptakan.

“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Iman memang naik turun, yg pasti antara iman dan maksiat berbanding terbalik. siapa yg sbk dgn maksiat, pasti akan mengabaikan imannya..

Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung, Siapa yang hari ini keadaannya sama dengan kemarin maka dia merugi

Dan sesungguhnya amal yang paling Allah sukai ialah yang terus-menerus rutin dikerjakan walaupun sedikit.. Smg istiqomah